Pendidikan aparat kepolisian, khususnya Brimob, dikenal dengan disiplin keras, latihan fisik berat, dan mental baja. Tujuannya jelas: membentuk personel yang siap menghadapi ancaman terhadap negara. Tapi, belakangan muncul pertanyaan tajam dari masyarakat: kenapa latihan keras itu seringnya justru “dipraktekkan” ke rakyat sendiri, bukan ke musuh nyata negara?


Kontradiksi di Lapangan

Alih-alih melindungi masyarakat, beberapa aksi Brimob dalam mengamankan demonstrasi justru dianggap represif. Gas air mata, water cannon, hingga pemukulan sering menghiasi pemberitaan. Ironinya, targetnya bukan teroris atau penjahat bersenjata, melainkan mahasiswa, buruh, atau warga sipil yang menuntut hak mereka.

Apakah Ada yang Salah dengan Sistem Pendidikan?

Jika Brimob ditempa untuk disiplin dan siap menghadapi ancaman, seharusnya “musuh” yang dilawan adalah mereka yang mengancam kedaulatan negara:

  • Teroris bersenjata

  • Sindikat narkoba internasional

  • Koruptor kelas kakap yang merugikan negara triliunan

  • Kriminal bersenjata yang membahayakan nyawa warga

Namun realita menunjukkan, rakyat yang bersuara sering lebih cepat ditindak ketimbang elite atau penjahat besar.

Saatnya Evaluasi

baca juga: Pendidikan Brimob perlu diarahkan ulang

  1. Menekankan humanisme – rakyat bukan musuh, mereka adalah bagian dari negara yang harus dilindungi.

  2. Transparansi dalam prosedur – tindakan aparat seharusnya proporsional dan bisa dipertanggungjawabkan.

  3. Pengawasan publik – agar aparat tidak semena-mena menggunakan kewenangan dengan alasan “pengamanan”.

Kalau rakyat yang bersuara dianggap musuh, lantas siapa yang benar-benar dilindungi? Pendidikan Brimob seharusnya tidak hanya membentuk fisik yang kuat, tapi juga hati yang bijak. Karena musuh negara bukan rakyatnya, tapi mereka yang benar-benar merusak bangsa dari dalam maupun luar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *